Pablo Software Solutions
Pusat Pendidikan Mitigasi Bencana (P2MB)
UNIVERSITAS  PENDIDIKAN  INDONESIA
Copyright © 2010 by WebAdmin  ·  All Rights reserved  ·  E-Mail: jp_geografi@upi.edu
Home
News
Contact us
Downloads
Concern
   Banjir
Apakah Banjir itu?
Banjir adalah peristiwa tergenang dan terbenamnya daratan (yang biasanya kering) karena volume air yang meningkat. Banjir dapat terjadi karena peluapan air yang berlebihan di suatu tempat akibat hujan  besar, peluapan air sungai, atau pecahnya bendungan  sungai.
Di banyak daerah yang gersang di dunia, tanahnya mempunyai daya serapan air yang buruk, atau jumlah curah hujan melebihi kemampuan tanah untuk menyerap air. Ketika hujan turun, yang kadang terjadi adalah banjir secara tiba-tiba yang diakibatkan terisinya saluran air kering dengan air. Banjir semacam ini disebut banjir bandang. Banjir Bandang adalah banjir di daerah di permukaan rendah yang terjadi akibat hujan yang turun terus-menerus dan muncul secara tiba-tiba. Banjir bandang terjadi saat penjenuhan air  terhadap tanah di wilayah tersebut berlangsung dengan sangat cepat hingga tidak dapat diserap lagi. Air yang tergenang lalu berkumpul di daerah-daerah dengan permukaan rendah dan mengalir dengan cepat ke daerah yang lebih rendah.
Menurut Kodoatie (2002), sebab-sebab alami banjir antara lain :
1. Curah Hujan
Oleh karena beriklim tropis, Indonesia mempunyai dua musim sepanjang tahun, yakni musim penghujan umumnya terjadi antara bulan Oktober - Maret dan musim kemarau terjadi antara bulan April - September. Pada musim hujan, curah hujan yang tinggi berakibat banjir di sungai dan bila melebihi tebing sungai maka akan timbul banjir atau genangan.

2. Pengaruh Fisiografi
Fisiografi atau geografi fisik sungai seperti bentuk, fungsi dan kemiringan daerah aliran sungai (DAS), kemiringan sungai, geometrik hidrolik (bentuk penampang seperti lebar, kedalaman, potongan memanjang, material dasar sungai), lokasi sungai dan lain-lain merupakan hal-hal yang mempengaruhi terjadinya banjir.

3. Erosi dan Sedimentasi
Erosi di DAS berpengaruh terhadap pengurangan kapasitas penampang sungai. Erosi menjadi problem klasik sungai-sungai di Indonesia. Besarnya sedimentasi akan mengurangi kapasitas saluran sehingga timbul genangan dan banjir di sungai. Sedimentasi juga merupakan masalah besar pada sungai-sungai di Indonesia. Menurut Rahim (2000), erosi tanah longsor (land-slide) dan erosi pinggir sungai (stream bank erosion) memberikan sumbangan sangat besar terhadap sedimentasi di sungai-sungai, bendungan dan akhirnya ke laut.

4. Kapasitas Sungai
Pengurangan kapasitas aliran banjir pada sungai dapat disebabkan oleh pengendapan berasal dari erosi DAS dan erosi tanggul sungai yang berlebihan. Sedimentasi sungai terjadi karena tidak adanya vegetasi penutup dan adanya penggunaan lahan yang tidak tepat.

5. Kapasitas Draenase yang tidak memadai
Sebagian besar kota-kota di Indonesia mempunyai draenase daerah genangan yang tidak memadai, sehingga kota-kota tersebut sering menjadi langganan banjir di musim hujan.

6. Pengarus air pasang
Air pasang laut memperlambat aliran sungai ke laut. Pada waktu banjir bersamaan dengan air pasang yang tinggi maka tinggi genangan atau banjir menjadi besar karena terjadi aliran balik (backwater). Fenomena genangan air pasang (Rob) juga rentan terjadi di daerah pesisir sepanjang tahun baik di musim hujan dan maupun di musim kemarau.


Strategi Dasar Pengelolaan Banjir
Menurut Grigg, ada 4 (empat) strategi dasar untuk pengelolaan daerah banjir yang meliputi (Kodoatie & Sugiyanto, 2002) :
a. Modifikasi kerentanan dan kerugian banjir (penentuan zona atau pengaturan tata guna lahan).
b. Modifikasi banjir yang terjadi (pengurangan) dengan bangunan pengontrol (waduk) atau normalisasi sungai
c. Modifikasi dampak banjir dengan penggunaan teknik mitigasi seperti asuransi, penghindaran banjir (flood proofing)
d. Pengaturan peningkatan kapasitas alam untuk dijaga kelestariannya seperti penghijauan / reboisasi.

Pengendalian banjir, menurut Kodoatie (2002), dapat ditempuh melalui 2 (dua) metode, yakni :
a. metode struktur
Metode struktur cenderung untuk  mensikapi banjir sebagai fenomena natural (alam) melalui  perbaikan dan pengaturan sistem sungai dan pembuatan bangunan pengendali banjir.Metode struktur ada dua, yaitu :  perbaikan dan pengaturan sistem sungai (meliputi: sistem jaringan sungai, normalisasi sungai, perlindungan tanggul, tanggul banjir, sudetan (by pass) dan floodway­); dan pembangunan pengendali banjir (meliputi bendungan (dam), kolam retensi, pembuatan check dam (penangkap sedimen), bangunan pengurang kemiringan sungai, groundsill, retarding basin dan pembuatan polder).

b. metode non struktur
Metode non struktur untuk mensikapi banjir sebagai fenomena nurtural -ulah manusia atau bisa jadi justru budaya manusia.
Metode non struktural salah satunya adalah pengelolaan DAS Terpadu, selain pengaturan tata guna lahan, pengendalian erosi, peramalan banjir, partisipasi masyarakat, law enforcement, dsb; pengelolan DAS berhubungan erat dengan peraturan, pelaksanaan  pelatihan, penyuluhan dan penyadaran masyarakat untuk berpartisipasi dalam memelihara DAS dengan baik.

Pengelolaan DAS mencakup aktivitas-aktifitas sebagai berikut :
a. Pemeliharaan vegetasi di bagian hulu DAS
b. Penanaman vegetasi untuk mengendalikan kecepatan aliran air dan erosi tanah
c. Pemeliharaan vegetasi alam, atau penanaman vegetasi tahan air yang tepat sepanjang tanggul drainasi, saluran-saluran &
    daerah lain untuk pengendalian air yang berlebihan atau erosi tanah
d. Mengatur secara khusus bangunan-bangunan pengendali banijir (semisal cekdam) sepanjang dasar aliran yang mudah
    tererosi
e. Pengelolaan khusus untuk mengantisipasi aliran sedimen yang dihasilkan dari kegiatan gunung berapi

Concern >>> Flood